Kerana itu Allah menjadikan Islam agama yang dapat memuaskan setiap keinginan yang sehat dan normal, menyenangkan setiap pendapat yang sehat dan sejahtera, dan serasi dengan setiap perkembangan yang baik. Golongan idealis yang ingin kebaikan kerana kebaikan semata-mata akan mendapatinya di dalam akhlak Islam di dalam ber’amal mencari keridhaan Allah. Golongan yang mempergunakan ukuran bahagia, akan mendapat di dalam fikrah Islam apa yang dapat mengwujudkan kebahagiaannya dan masyarakat yang bersamanya, sebagaimana firman Allah:  “Barang siapa nengerjakan amal saieh, baik laki-laki mau pun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan diberikan kepadanya kehidupan yang balk.” (Q.S. An Nahl: 97)

Golongan yang mempergunakan ukuran manafa’at untuk peribadi atau masyarakat akan mendapati di dalam Islam manafa’at yang dicarinya, sebagaimana firman Allah: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.” (Q.S. Al lsraa’ : 7). Dan firmanNya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri.” (Q.S. Fushshilat: 46)

Golongan yang mempergunakan ukuran kemajuan, akan mendapati di dalam Islam kemajuan yang dicarinya. Demikian juga golongan yang mempergunakan ukuran kondisi masyarakat akan mendapati apa yang sesuai dengan masyarakatnya. Malah golongan yang cita-citanya hanya untuk mendapat kesenangan dan kelazatan, akan mendapatinya, sesuai dengan nikmat dan kesenangan yang disediakan Allah bagi orang-orang mukim di syurga, sebagaimana firman Allah: “Di dalam syurga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata.” (Q.S. Az Zukhruf: 71)